Selasa, 03 Mei 2011

PERJALANAN MENUJU KE DATARAN TINGGI DIENG

Persiapan di lobi hotel,


Melewati Jembatan Pabelan,


Sungai Pabelan,


Melihat Persawahan,


Pohon pisang
(banana trees),


Makan siang di Asia Restaurant,


Selain TL, mereka adalah satu keluarga,


Tiba di Telaga Menjer
dengan menggunakan 2 minibus,


Menyusuri tepi telaga Menjer,


Mengabadikan perahu yang ada tengah telaga,


Perahu sedang menepi,


Telaga Menjer,


Pengamen di pintu masuk pelataran candi,


Bunga Panca Warna
(Hydrangca macrophylla),


Bunga Kecubung
(Brugmansia suaveolens),


Melihat bagian dalam Candi Arjuna,


Berdiri di depan candi,


Menuruni tangga Candi Puntodewa,


Berjalan menuju kawah Sikidang,


Melihat kawah Sikidang,


Kawah Sikidang dilihat dari atas bukit,


Ngobrol sejenak sebelum pulang,


Penjual buah-buahan,


Berbagai macam souvenir dari Dieng,



Pada hari selasa, tanggal 19 April 2011, rombongan turis dari Ceko yang dipimpin oleh Mr. Krystof Jezek berangkat dari Yogyakarta menuju ke Dieng. Pukul 08.00 WIB, rombongan sudah meninggalkan Hotel Melia Purosani. Waktu tempuh Jogja - Dieng sekitar 3 jam lebih. Oleh karena itu, rombongan ini harus berangkat lebih awal. Dan tidak lupa, guide dari Go Vacation Jogja, Bapak Ir. Marsito Merto turut serta di dalamnya.

Keadaan di sekeliling, sepanjang jalan Jogja sampai dengan Muntilan, bagi mereka sudah tidak merupakan pemandangan yang baru, karena sehari sebelumnya mereka sudah melewatinya ketika akan ke Candi Borobudur.

Yang baru adalah, ketika rombongan melewati jembatan Pabelan yang merupakan menghubungkan antara Muntilan dengan Magelang. Salah satu jembatan yang sejajar di tempat ini beberapa hari sebelumnya runtuh diterjang banjir lahar dingin Merapi. Beruntung waktu itu tidak ada korban jika, karena sebelum jembatan runtuh (sekitar pukul 18.00WIB), aparat keamanan dan kepolisian sudah menutup jalan ini dari kedua arah. Awalnya, kendaraan besar (bus dan truk) tidak boleh melewati salah satu jembatan yang masih utuh, karena pondasi jembatan sempat tergerus banjir. Sehingga kendaraan besar kalau akan ke arah Magelang harus melewati Purworejo. Tetapi setelah pondasi jembatan diperkuat dengan baja dan semen kualitas tinggi, maka sekarang sudah bisa dilewati bus dan truk lagi, meskipun harus bergantian dengan arus lalu lintas dari arah yang berlawanan. Dan untuk menormalkan kembali arus lalu lintas seperti sebelumnya, maka pembangunan jembatan yang baru di sisi barat, dikerjakan siang dan malam.

Rombongan berhenti sejenak, ketika di sisi jalan yang dilalui ada banyak tanaman padi (areal persawahan). Mereka turun untuk melihat padi yang masih menghijau, padi yang sudah menguning, dan padi yang sedang dipanen. Selain itu, persis di tepi jalan, ada tanaman lainnya, misalnya: pohon pisang, tebu, nangka, kumis kucing, dan lain sebagainya. Setelah puas melihat-lihat, rombongan masuk kembali ke dalam bus dan meneruskan perjalanan menuju Wonosobo.

Setibanya di Wonosobo, rombongan yang berjumlah 20 orang ini, makan siang di rumah makan 'Asia'. Mereka kelihatannya sangat menyukai berbagai masakan yang disajikan. Ada sup, bakmi, cap cay, beef steak, cocktail, dan lain sebagainya. Sementara, penulis justru kepingin makan makanan yang khas di daerah ini, yaitu bakso kupat. Mangkal di seberang rumah makan Asia. Harganya cukup murah, semangkuk hanya Rp. 4.500,- saja. Tidak seperti bakso pada umumnya, bakso di sini tidak memakai bakmi sebagai pelengkapnya tetapi diganti dengan kupat. Awalnya bagi penulis, bakso dengan sajian seperti ini memang agak aneh. Tapi mungkin karena belum terbiasa saja.

Setelah selesai makan siang, rombongan meneruskan perjalanan ke dataran tinggi Dieng dengan menggunakan 2 minibus. Meskipun tidak berpendingin udara, tetapi hal ini tidak menjadi masalah karena udara di kawasan Wonosobo sudah cukup sejuk. Kenapa kami beralih menggunakan minibus? Karena jalan di sepanjang lereng perbukitan Dieng tidak terlalu lebar/ sempit dan berkelok-kelok tajam, sehingga cukup sulit atau bahkan tidak bisa dilalui dengan menggunakan bus yang berukuran besar.

Sebelum ke kawah Dieng, rombongan mampir dan melihat-lihat dulu di Telaga Menjer. Di sini terdapat pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pemandangannya cukup bagus. Di seberang sana ada perbukitan yang menghijau dan asri. Di tempat berdiri para wisatawan cukup rindang karena banyak ditumbuhi pohon cemara. Tetapi bagi wisatawan yang masih kurang puas hanya melihat dari tepi telaga, disediakan perahu panjang yang bisa dinaiki oleh beberapa orang untuk mengelilingi telaga ini.

Perjalanan selanjutnya ke kawasan Dieng (Dieng Plateu). Harga tiket masuk ke kawasan ini Rp.20.000,-. Tetapi kalau untuk rombongan dalam jumlah tertentu biasanya ada sedikit potongan harga. Ketika turun dari minibus kebetulan sedang hujan rintik-rintik. Dan seperti biasanya, Bapak Marsito kemudian membelikan jas hujan yang murah meriah (harganya Rp.3.500,- saja) untuk para anggota rombongan. Awalnya ketika penulis ikut membagikan jas hujan ini, ada beberapa anggota rombongan yang menolak karena dikira harus membeli. Jas hujan ini cukup praktis, karena bisa melindungi kepala sampai di atas lutut dari guyuran air hujan.

Obyek pertama yang dikunjungi adalah kompleks Candi Arjuna. Di sini rombongan bisa melihat beberapa buah candi yang dikelilingi dengan taman yang cukup luas. Mereka selalu penasaran dengan bagian dalam bangunan, sehingga tiap-tiap candi mereka masuki. Setelah itu mereka berkeinginan untuk berfoto di depan candi. Dan di luar area taman ini masih ada 2 candi lagi yang berdiri sendiri, yaitu Candi Gatotkaca dan Candi Bima. Jarak satu candi dengan yang lainnya tidak terlalu jauh.

Kunjungan kedua, yaitu ke Kawah Sikidang dan sekitarnya. Meskipun bau belerang cukup menyengat, tetapi mereka tetap penasaran mendekati bibir kawah. Mereka kelihatan senang bisa melihat aktivitas kawah dari jarak yang cukup dekat, sekitar 1,0 - 2,0 meter dari bibir kawah. Tak lupa, mereka berfoto-foto di sini. Tetapi ada beberapa anggota rombongan yang masih muda atau yang sudah tua tetapi semangatnya masih muda/energik, tidak puas hanya melihat dari dekat kawah saja. Mereka naik ke atas bukit di sekeliling kawah lalu melihat, mengamati, dan memotret pemandangan yang ada. Setelah puas, mereka turun kembali. Tetapi karena waktunya sudah terlalu sore, maka tour leader memutuskan untuk tidak mampir ke obyek yang lain, yaitu Telaga Warna. Air di telaga ini berwarna-warni (kuning, hijau, biru). Perubahan warna air tergantung dari konsentrasi mineral-mineral yang ada di dasar telaga.

Sebenarnya di tempat ini masih ada obyek wisata lain, yaitu Dieng Plateu Theatre, yaitu semacam bioskop mini yang menceriterakan asal mula terbentuknya gunung berapi dan aktivitasnya, khususnya di sekitar dataran tinggi Dieng. Selain itu diceriterakan juga kebiasaan penduduk Dieng dengan fenomena anak berambut gimbal. Sebagai pelengkap, biasanya ada anak berambut gimbal di pintu keluar. Sehingga para wisatawan yang telah selesai melihat film di bioskop, dengan mata kepala sendiri bisa melihat seorang anak dengan rambut gimbal itu seperti apa. Kebanyakan malah ingin foto bersama dengan anak tersebut. Sebagai ucapan terima kasih dan simpati, mereka kemudian memberikan uang jajan kepada si anak.

Rombongan kemudian naik minibus lagi, menuju ke Alun-alun kota Wonosobo, dimana bus pariwisata yang dipakai dari Yogyakarta sudah menunggu di sini. Dan akhirnya, rombongan kembali menuju Yogyakarta.


Makan Siang,



Telaga Menjer,



Dari Telaga Menjer Menuju Kawah Dieng,



Kompleks Candi Arjuna,



Kawah Sikidang,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar