Senin, 29 Agustus 2011
MERTI GOLONG GILIG
Sehari setelah memperingati hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66, atau tepatnya pada tanggal 18 Agustus 2011, warga kampung Dipowinatan menyelenggarakan laku budaya Merti Golong Gilig. Kata Golong Gilig kurang lebih memiliki makna BULAT dan KEMPEL/padat yang kemudian oleh masyarakat dimaknai sebagai sebuah kebulatan tekad. Laku budaya ini dilaksanakan dalam rangka untuk membangun sekaligus memelihara semangat kebulatan tekad dalam persatuan dan kebersamaan warga Dipowinatan.
Upaya membangun atau memelihara semangat persatuan dan kebersamaan sebagai sesama warga Dipowinatan tersirat dalam prosesi pengumpulan lidi oleh warga, yang dimulai dari wilayah RT (Rukun Tetangga) kemudian di tingkat RW (Rukun Warga) dan selanjutnya dibawa ke ruang publik untuk dilaksanakan peneguhan niat. Secara simbolik dilakukan dengan mengikat kumpulan lidi dari berbagai wilayah RT dan RW dengan kain berwarna merah dan putih, yang di dalamnya terdapat benang lawe.
Untuk selanjutnya diberikan apresiasi dengan Babaring Werdi Merti Golong Gilig oleh Ki Dalang Mardi Kenci. Dengan maksud untuk semakin memahami makna dari pentingnya selalu membangun dan sekaligus memelihara semangat persatuan dan kebersamaan bagi warga kampung Dipowinatan, sehingga nantinya dapat tercipta suasana yang teduh menyejukkan, guyub rukun, ayem tentrem dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, dilakukan kirab budaya. Maka untuk mengawalinya, Walikota Yogyakarta, Bapak H. Herry Zudianto SE., Akt. diminta untuk memainkan/ membunyikan pecut. Kirab ini terdiri dari berbagai kelompok, yaitu di barisan paling depan ada 4 raksasa sebagai simbol kejahatan, semar dan pendito sebagai simbol kebijaksanaan. Dalam kirab ini, semar membawa bendo dan pecut, sedangkan sang begawan/ pendito membawa sebuah tongkat. Adakalanya, senjata yang mereka bawa diacung-acungkan ke arah para raksasa yang berjalan di depannya, sebagai simbol bahwa mereka juga berfungsi sebagai pengusir segala niat jahat.
Di belakangnya ada bergodo prajurit 40 sebagai simbol pertahanan dan penjaga keamanan. Lalu diikuti oleh para Ketua RT dan Ketua RW di kampung Dipowinatan. Dan terakhir, terdapat 5 pemuda yang membawa sapu lidi yang diikat menjadi satu sebagai simbol persatuan dan kesatuan warga kampung Dipowinatan.
Kirab ini mengambil rute yang tidak terlalu jauh, yaitu dari Ruang Publik ke arah selatan, lalu ke arah timur. Sampai di jalan Ireda, berjalan ke utara dan menuju pintu gerbang wilayah RW 02, lalu kembali lagi ke tempat semula.
Laku budaya ini sebagai bentuk apresiasi seni budaya lokal, sekaligus memberikan hiburan dan memeriahkan pelaksanaan pesta rakyat, yang secara rutin diselenggarakan tiap tahunnya di kampung Dipowinatan.
Selain Walikota Yogyakarta, ikut hadir juga Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Bapak Camat Mergangsan, Bapak Lurah Keparakan, Komandan Koramil, Kepala Polsek Mergangsan, para tokoh masyarakat, seniman dan pemerhati budaya.
Dalam kesempatan ini, Bapak H. Herry Zudianto SE., Akt. juga diminta untuk menandatangani prasasti penyerahan Ruang Publik seluas 397 m2 di selatan Balai Warga ini sebagai tempat aktivitas warga Dipowinatan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar