Senin, 11 Juli 2011

DIRJEN PARIWISATA MENGUNJUNGI DIPOWINATAN

Gamelan yang diperoleh dari dana bantuan
PNPM Mandiri Pariwisata 2011


Siter 2 pelog (atas-bawah)




Dirjen Pariwisata disambut di depan Balai Warga


Menuju Kantor Dipowisata di Ruang Publik



Ibu Yulia (kiri) ikut hadir




Berbincang-bincang di Kantor Dipowisata.


Mengamplas papan panggung/ stage.


Papan panggung dan kerangka payung


Kantor Dipowisata



Bapak A. Sigit Istiarto sedang menunjukkan foto
kegiatan di kampung wisata Dipowinatan






Melihat piagam penghargaan


Perbincangan dilanjutkan
di Balai Warga Dipowinatan





Bapak Warsito menerangkan
seluk-beluk pembuatan payung


Menunjukkan gamelan yang dibeli
dari kampung wisata Pandeyan


Jamuan Makan Siang




Dengan latar depan, meja dan payung yang hampir selesai



Bapak Drs. Bakri, M.M. berpamitan



Pada hari minggu, tanggal 5 Juni 2011 warga kampung Dipowinatan mendapat kehormatan karena telah dikunjungi Dirjen Pariwisata, Bapak Drs. Bakri, M.M. Kunjungan ini bersifat non formal karena beliau datang atas nama pribadi bukan atas nama instansi. Ketidakformalan beliau terlihat dari pakaian yang dikenakan, yaitu kaos polo shirt dikombinasi dengan celana panjang jeans.

Beliau ingin melihat secara langsung sejauh mana penggunaan dana bantuan PNPM Mandiri 2011 di kampung Dipowinatan. Dari halaman Balai Warga, bapak Bakri diarahkan ke Ruang Publik. Di sini beliau melihat seorang warga yang sedang mengampelas stage/kotak panggung, yang masing-masing berukuran 1x2 meter. Disamping itu juga melihat payung yang terbuat dari kayu glugu/ batang pohon kelapa yang baru selesai sekitar 75 persen. Karena masih perlu dihaluskan dan diberi kain penutupnya.

Setelah itu, beliau melihat bagian dalam kantor Dipowisata. Terlihat sederhana, karena dindingnya masih terlihat susunan batakonya dan belum ada polesan apapun. Atapnya masih kantor terbuat dari asbes gelombang kecil. Yang cukup menarik adalah dinding depan dan pintu masuk. Yang terbuat dari bahan kayu dengan model rumah tradisional jawa. Umumnya, orang menyebutnya dengan nama gebyog. Dan manakala dibutuhkan ruangan yang lebih lapang, maka gebyog ini bisa dilepas.

Tidak lama kemudian kepala dinas pariwisata kota Yogyakarta, Ibu Yulia Rustiyaningsih, S.Ip., M.M. ikut hadir. Pembicaraan pun menjadi lebih seru karena kehadian beliau. Bapak Bakri terlihat senang dan merasa kagum melihat fot0-foto kegiatan pariwisata di kampung Dipowinatan. Terdengar ucapan beliau: "Inilah kampung yang bisa mendatangkan seorang Duta Besar. Hebat..hebat.."

Setelah dirasa cukup, pembicaraan dilanjutkan ke Balai RW. Di ruangan ini terlihat beberapa alat musik tradisional jawa/ gamelan. Memang tidak lengkap karena hanya berupa pethilan gamelan. Nantinya gamelan ini akan digunakan untuk menghibur tamu ketika yang sedang makan siang/malam.

Sebagai pelengkap acara kunjungan, maka dirjen pariwisata dan kepala dinas pariwisata kota beserta staf, serta para tamu undangan yang hadir disuguhi masakan tradisional.

Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya bapak Bakri mohon pamit pulang ke rumahnya di kampung Tahunan, Umbulharjo, Yogyakarta. Ternyata dirjen pariwisata ini berasal dari kota yang sama, yaitu Yogyakarta.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar